Pages

Kumpulan Puisi

Kamis, 05 Februari 2015

                                                                          Sang

Lautan waktu menghardik tak menyurutkan dentingan
Pagi bergilir petang enggan memejamkan mata, melirik Sang
Berpijar dalam lakon berbeda mawas.
Hitam Berbaur Putih membentangkan jendela cakrawala
Sang, menyongsong keBhineka Tunggal Ika,
Purnama dalam satu barisan kokoh.

Bagai Orkestra menggaungkan ladang harmoni
Tidak sepi, gemuruh yang mampu menggema,
Memusnahkan jiwa congkak diusung.
Satu bukan satu, namun pemersatu
Satu mampu payungi ruang kepiluan.    

Sang, Jeritkan kedamaian diatas samudra
Kobarkan rajutan benang berlandas Merah Putih
Menempuh Keluasan angan , menyokong ufuk fajar
Obati Kelam membalut jiwa dengan gagas terukir
Rangkul sosok tak sama
Gerakan kaki lusuh walau lumpuh teramat
Kepakan garuda di lembayung ibu pertiwi

10/8/2014
Nama: Rahmat Novianto




Balada diakhir malam

Senja.
Asap kelam  tak nampak celah sinar
Detik terlontar menyayat sanubari insani
Sungguh ingin segera meraih matahari,
namun, tak sanggup ku raih
kunang-kunang mulai tersenyum melirik
hilang seketika,

selongsong peluru berlomba menembus dadaku
patriot jiwa terus berjuang
benteng kokoh mulai berlubang
tak sabar meraih medali

bendera putih yg lusuh pun berkibar tanda akhir
sembari mengadah tangan patriot tangguh berusaha mengikat sabuk kesucian
duka menyayat malam berakhir tak mungkin terulang
syukur, percaya duka tak akan abdi jika di perjuangkan

By Rahmat Novianto
13 Juli 2013


Marhaban ya Ramadhan

waktu begitu cepat seakan berlari
menusuk tajam, bak pedang menyayat nurani
menumpuk kemungkaran kian mengikuti langkah kaki
berharap,sepercik cahaya indah menghampiri
Ramadhan.
Begitu indah detik yang terlampaui
menerangi bulan dan mentari
aku menanti berhias senyum kotor, berharap terampuni
tangan ,kaki,dan lisan menjadi saksi hati ternodai
pilar kebaikan pun mengobati sunyikumandang tahmid, takbir,menyeru insan
terus menggema kepenjuru fana kehidupan
engkau lah sang malam madani,,,,,,,
kau bersandikan ,rahmat,ampunan,serta kesucian lil alamin
berhiaskan seribu bulan atas tanda cinta yaa robbi
duka,nestapa,sirna tak dapat berdusta
sebulan penuh melatih ketaubatan ku
tiap detik coba bentengi kehidupan dalam kebenaran
hingga,,matahari enggan menampakkan terik nya
berganti bulan tersimpuh malu
pekat malam,pintu maaf sang pencipta
tiada angkuh tubuh bersyujud
langkah hidup terselamatkan ilahi
menjadi titik capai gerbang fitri
marhaban yaa ramadhan.
selamat datang wahai ramadhan.
10 Agustus 2011
By Rahmat Novianto

Abu
Malam, apa kau melihat petang pergi?
Kemilau sutra, pagi hendak meninggalkan mu?
Berteman Lembayung kusut silih berganti
Tak terekam dentang waktu ku jalani.
Pilu akan berlalu tanpa bercak.
Rotasi nafas berlari mengejar usai

Tabu,
Aku undur waktu tak berlalu.
Detik tak kembali, 
Bening air membasuh busuk muka ku
Iklas nya menghapus pilu membayang
Gemericik air lunturkan lelah
harap sayap patah terbang kepelukan ilahi
Terpatri indah bait-bait fitrah.

By Rahmat Novianto
28-09-2014


Jari lusuh
Aliran darah deras menuntun nya
Gerak pelan memimpin gagasan duka tersirat
Ia merpati , mengantar suratan renta
Dia pun mulai menari dengan usang pekat.

Terpaku sejenak dalam kepenatan
Letih membayang menyurut ingatan
Tak mampu kiranya menopang angin
Bangun , menepis sangar sayatan

Ini aku, tan pa akhir duniaku.
Read more ...